Posted in Diaries

Catatan Perjalanan Bali – Part 1

(Disclaimer: banyak sarkas dan black comedy. Cerdaslah bahwa tulisan ini hanya untuk humor semata dan tidak benar-benar menggambarkan perasaan saya. Hanya saja, saat menulis ini mood saya agak hiperbola ūüėÜ )

Senin, 25 Desember 2017.

Waktu menunjukkan pukul 18.40 WIB. Terminal 2 Bandar Udara Soekarno-Hatta menjadi pemberhentian terakhir sebelum memulai petualangan melepas rutinitas yang sudah dilaksanakan selama setahun terakhir (baca: kerja). Seorang anak muda yang masih kinyis karirnya ini memilih Bali sebagai perantauan terakhir untuk menyia-nyiakan seminggu terakhirnya di tahun 2017. Masih ada 2 jam lagi sebelum boarding, lebih baik saya nyalakan sebatang rokok dengan korek api overpriced yang saya beli di Food Hall kemarin.

Saya masuk ke sesi pengecekan Aviation Security dimana personilnya berwajah galak dan seakan siap menerkam. Entahlah, saya tidak pernah suka orang-orang Avsec. Saya tahu, mereka bertugas menjaga keamanan bandara dengan melakukan pengecekan terhadap setiap penumpang yang ada. Namun, muka mereka tidak harus selalu memasang mimik galak dan seakan meremehkan. Hm, seperti apa, ya? Entahlah, mungkin ini hanya prasangka pribadi saja. Setiap kali saya mau melewati metal detector, mereka seakan siap untuk ‘menyantap’ saya bila terlihat membawa barang-barang yang dilarang peraturan bagasi pesawat. Mungkin, karena saya berambut cepak tipis, berjanggut semi-lebat tak tertata, berkaos t-shirt dibalur jaket lusuh yang terlalu sering digunakan, celana bahan terlalu besar, serta sendal produksi lokal yang selalu digunakan setiap hari.

Mereka tidak sadar bahwa saya sudah sangat siap menghadapi mereka; celana saya dari karet dan segala peralatan yang berpotensi memicu metal detector sudah diamankan di dalam tas. Anda tidak akan bisa menghentikan saya, Avsec! Karena saya terlalu patuh peraturan! HUAHAHAHA (tertawa jahat tipikal antagonis FTV Indosiar yang jalan ceritanya terkadang absurd)

Sebuah kepuasan ketika saya bisa meringankan pekerjaan Avsec, dimana mereka tidak perlu mengecek saya dengan gadget fancy-nya (baca: metal detector) dan membuat muka kusut mereka sia-sia. Hei, muka anda tidak perlu kusut saat mengecek penumpang. Cukup menjadi tegas ketika ada yang melanggar peraturan. Sejak kapan muka kusut berkorelasi dengan ketegasan, hah? Apakah perlu saya mengulang kembali 12 semester di Program Sarjana Psikologi agar bisa membuat skripsi tentang topik tersebut?

Anyway, hal ini bukanlah kejadian yang paling mengesalkan dari apa yang akan anda baca selanjutnya. Karena setelah selesai pengecekan tersebut…

Korek api saya hilang.

Ya, HILANG! Korek api yang seharga dua-per-tiga (2/3) dari harga sebungkus rokok Dunhill putih telah lenyap entah kemana. Entah jatuh, entah tertinggal saat pengecekan di Avsec tadi, atau mungkin korek api itu telah lelah menjalani kodratnya sebagai objek yang terlalu mahal untuk kelasnya sehingga dia merasa lebih baik untuk melenyapkan diri dari alam nyata menuju alam metafisika. Entahlah. Yang jelas, saya kesal. Apa bukti kekesalan saya? Sederhana, saya tidak akan menulis 5 paragraf tentang Aviation security hanya untuk menekankan betapa kesalnya saya kehilangan korek api saya.

Selayaknya jodoh. Pada akhirnya, kita semua harus belajar move on dan menerima fakta bahwa sebagian korek tidak untuk sebagian orang. Saya nggak cocok beli korek mahal. Kalo mau mahal, mendingan besok beli zippo limited edition aja sekalian.

Namun, perokok tidak pernah kehabisan akal. Ketika mampir ke salah satu kedai kopi sebrang Starbucks, ternyata di tempat tersebut ada indoor smoking yang agak nyaman; sebuah surga bagi para penunggu yang lebih memilih mengurangi life-points-nya dengan merusak paru-paru. Disana, terdapat seorang pria paruh baya yang sedang menikmati ritual berasapnya. Dengan serangkaian social skills hasil belajar dari YouTube, saya mempersiapkan segala mimik wajah, gerakan tangan, serta gestur tubuh yang menunjukkan positivisme hanya untuk berkata satu kalimat sederhana:

“Pak, pinjam koreknya, ya?”

Tentunya, bapak itu meminjamkan seraya mengatakan “Silahkan, mas”. Saya meminjam dan berterima kasih kepada bapak tersebut. Kemudian kami saling menikmati ritual pengasapan/pengurangan nyawa kami tanpa menginterupsi kegiatan satu sama lain.

Itulah kenapa saya suka merokok. Ada semacam peraturan tak tertulis untuk saling membantu perokok dalam kebutuhan ritualnya. Bagi mereka yang kesulitan mencari api, kita perlu berbagi ketika memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk menciptakan api (entah menggunakan korek, gosok kayu, atau sihir). Andaikan filosofi perokok ini diterapkan dalam aspek lainnya, yaitu membantu tanpa pamrih walaupun harus mengeluarkan sedikit sumber daya kita, pasti dunia jauh lebih damai. Terlepas dari apa jenis rokoknya, mau itu mild, kretek, samsu, filter, atau linting, setiap orang tetap menikmati apa yang mereka yakini sebagai seleranya dengan cara masing-masing. Sebuah perwujudan masyarakat madani dimana orang-orangnya saling kolaborasi dan bertoleransi terhadap perbedaan. Masyarakat perlu belajar dari para perokok!

Ritual pembakaran menjadi maksimal lantaran kafe sebrang Starbucks membuat perokok merasa dimanjakan. Sudah menjadi mimpi basah segala perokok ketika mereka menemukan tempat yang indoor dan free-to-smoke. Saya lupa nama kafenya, makanya saya bilangnya kafe sebrang Starbucks. Namun ada alasan yang lebih penting kenapa saya tidak ke Starbucks: saya tidak suka Starbucks. Bukan karena alasan religius/idealis/nasionalis seperti asalnya yang dari Amerika dimana CEO-nya mendukung program LGBT dan isu-isu zionisme lainnya. Hanya saja, rasa kopinya bukan selera saya. Yah, mau bagaimana lagi.. Selera saya ternyata mengarahkan saya untuk tidak mendukung agenda Starbucks dan menjaga idealisme saya. Jadi, bila saya terkesan mengecam topik-topik sensitif tersebut di paragraf ini, ingatlah bahwa itu bukan karena prinsip dan keyakinan saya, tapi selera saya. Oleh karena itu, tolong jangan menghujat saya karena pilihan dari selera saya. Selera bukan sesuatu yang saya (dan anda) perlu perdebatkan, bukan?

Kemudian, waktu menunjukkan 20 menit lagi dari jadwal boarding yang direncanakan. Dengan penuh kepercayaan diri saya melangkah ke gerbang yang telah ditentukan. Sayangnya, kekecewaan hanyalah sesuatu yang saya temukan ketika harus mengantri lagi karena pesawat sebelumnya masih delay sehingga penumpang pesawat selanjutnya tidak diperbolehkan duduk di dalam ruang tunggu. Bagi saya yang terbiasa menunggu, kekecewaan itu cepat menghilangnya karena saya lebih suka mengobservasi¬† saat melakukan kegiatan yang seakan-akan-akan-produktif-namun-kenyataannya-tidak tersebut. Ternyata, orang-orang tidak biasa menunggu. Mereka meluapkan kekecewaan dengan bertanya “kenapa” dan menyarakankan tentang bagaimana “seharusnya”.

Sedikit yang mereka tahu bahwa penumpang tidak akan memberikan dampak yang besar sebelum mereka bersatu untuk menyatakan pendapatnya secara satu suara. Beberapa orator ulung mulai sedikit mengeraskan suaranya untuk menyarakan “kenapa” dan “seharusnya”, sayangnya waktu tidak berpihak terhadap mereka karena beberapa saat setelahnya petugas mengarahkan untuk membuat jalur antrian dan masuk secara tertib. Kasihan, mereka seperti Avsec yang sia-sia membuang energinya hanya untuk bermuka masam dan mendapati metal detector tidak bunyi saat saya melewatinya.

Kembali lagi kepada kegiatan menunggu yang seakan-akan memberikan dampak positif terhadap saya, bentuk observasi yang sering saya lakukan adalah bagaimana orang-orang berbusana di dalam ruang tunggu tersebut. Ada yang pake sepatu kets vans yang customized dengan hak yang tinggi, namun hanya pakai hotpants dan baju kelelawar yang cukup panjang sehingga memberikan ilusi bahwa tidak terdapat celana yang dipakai oleh ibu-ibu tersebut, atau dedek yang kelihatannya masih kinyis dengan celana hotpants dan kaos ketat di badannya, atau mbak-mbak pake rok hampir setinggi hotpants dengan bentuk yang lebar ke atas sehingga setiap pergerakannya seakan hampir menyingkap roknya. Mungkin anda bertanya, “kenapa hanya kaum hawa yang diperhatikan? Bagaimana dengan kaum adam yang berceceran di ruang tunggu? Kenapa tidak anda perhatikan juga, apakah anda tidak mendukung kesetaraan gender?”

Berdasarkan penelitian yang tidak relevan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, sadarilah bahwa isi lemari wanita bisa 3x  lebih banyak daripada lemari pria. Saya tidak menyadari fashion kaum pria, karena apa yang mereka gunakan tidak mencolok, dan saya tidak mau melirik-lirik pria karena mungkin akan ada pria lain yang mendatangi saya dan meminta untuk dilirik. Andaikan hanya tersisa Luna Maya Sugeng dan Nazril Ilham di dunia ini, mungkin saya akan lebih melirik Luna ketimbang Nazril karena selera saya memilih yang lawan jenis. Maafkan selera saya atas sikap heteroseksualitasnya yang mungkin akan men-trigger sebagian orang dengan identity gender yang berbeda, ya!

Tanpa sadar, petugas AirAsia datang dengan sebuah harapan indah bahwa saya akan segera menempati kursi pesawat: pengumuman untuk berangkat. Namun, mereka memanggil berdasarkan Zona, dimana saya menyadari bahwa saya berada di Zona 3, terlepas dari tempat duduk saya yang berada di 9A. Akhirnya, hanya Zona 1 dan 2 terlebih dahulu yang dipanggil, membuat saya merasa seperti pribumi yang haknya dikebiri oleh penjajah saat Indonesia belum merdeka.

Skip-skip-skip, masuk pesawat deh. Lihat pramugarinya cantik apa enggak, check. Masukin tas ke kabin dan menghalangi orang di belakang saya untuk jalan karena besarnya badan yang menutupi hampir keseluruhan koridor pesawat, check. Minta extension kepada pramugari yang buru-buru karena saya harus menerima kenyataan bahwa sabuk pesawat sudah tidak bisa menahan perut saya yang gembil, check.

Pesawat mulai bergerak seraya pramugari memperagakan standar keselamatan sebelum pesawat lepas landas. Ketika saya melihat pramugari yang memeragakan di depan saya, ada sebuah keibaan karena sepertinya dia mengantuk. Matanya yang terkadang menutup 2-3 detik lebih lama saat berkedip mengingatkan saya yang terkadang kehilangan kesadaran sesaat di depan meja komputer ketika sedang bekerja. Bukan pingsan atau apa, sih. Tapi ngantuk dan ketiduran. Mungkin dia lelah, harus terbang di hari natal dan flight terakhir. Nggak kebayang dia harus berapa lama di pesawat dengan kursi khusus pramugari yang bentuknya seperti tempat duduk kereta antar-provinsi kelas ekonomi, tidak ergonomis.

Namun, mereka tetap bisa tersenyum terlepas dari kelelahan mereka. Yang saya hanya bisa lakukan hanyalah membeli ransum yang mereka dagangkan di puluhan kilometer di atas permukaan laut. Walaupun harganya 3x lipat lebih mahal dibandingkan warung di depan rumah, lebih baik saya tidak protes daripada disuruh beli di luar pesawat. Selain itu, semoga saja revenue tambahan tersebut bisa membuat mereka lebih tersenyum saat berhasil mendapatkan bonus terhadap penjualan mereka.

By the way, AirAsia ini pinter, loh. Mereka jual hot-seat saat pesawat bergerak dan hanya 100 ribu rupiah saja. Dibandingkan di online check-in yang bisa sampe 300 ribu-an, tentunya ini deal yang bagus dengan menggunakan prinsip door-in-the-face. Sebuah strategi penambahan revenue dari sisa resource yang bisa dimaksimalkan. Keren!

Tidak ada kegiatan menarik saat pesawat terbang. Saya hanya menikmati alunan lagu jadul yang sempat saya unduh sebelum berangkat. Kenapa lagu jadul? Saya lebih suka terhadap lirik yang mendayu-dayu namun terkonsep sekali. Walaupun terkesan jadul dari segi pembahasaan, secara kualitas produksi lirik jauh lebih baik karena setiap kata tidak keluar jalur dari konsep yang sudah ditetapkan, dan tema-nya yang ditekankan pada nilai-nilai luhur (Teluk Bayur dengan pesannya untuk menuntut ilmu atau Kenapa Harus Jumpa dengan keutamaan meminta pertolongan Tuhan saat move-on). Saya terpaksa memenangkan selera saya untuk urusan musik, karena memang pilihan dia suka bagus dan asik didengarkan. Andaikan kamu termaterialisasi menjadi sebuah manusia, mungkin kamu cocok jadi VJ MTV jaman baheula?

00:30 WITA, pesawat mendarat dengan sempurna. Saya turun dan sampai ke lobby, menawarkan dua pasangan untuk menjadi fotografer mereka, serta mengambil bagasi dan mendokumentasikan kegiatan panjat pertama saya: SnapGram di Bali. Karena eksistensi dan kebahagiaan ditentukan seberapa banyak postingan dan sigap anda dalam mengabadikan momen yang mungkin tidak akan anda lewati di lain kesempatan saat melakukan liburan, bukan?

Saya bertemu dengan Mas Bro, dan merapat ke adik dan ibu saya yang sudah sampai duluan. Selamat datang di Bali, semoga menjadi perjalanan yang dapat dikenang.

Advertisements
Posted in Uncategorized

Start Over.

Hello, there! Welcome to my blog!

After not writing for a while, I decided to continue my blog. At first I was tempted to make a new one. But, I do not think that it would be better for me, as I will create more complicated tracks of my digital footprints, lol. And to think a new names is as difficult as naming your own character in an MMORPG-style video game. So, yeah. I’ll stick with this one. After all, at some point in life, you need to settle down and enjoy the rest of your life with your loved ones (and where is the correlation between continuing my old blog and settling down? I did not understand myself on that. Ha! Sorry for wasted seconds of your life trying to comprehend.)

Selain itu, saya akan mulai menggunakan Bahasa Indonesia dalam blog ini. Awalnya, sih, mau pake bahasa Inggris aja. Namun, karena nanti saya harus berpusing-pusing membuat blog khusus bahasa Indonesia, cukuplah blog ini diterbitkan dalam dua bahasa. Lagipula, ini salah satu cara untuk mengenalkan bahasa Indonesia ke dunia. Siapa tahu, dalam 15 tahun kedepan saya jadi Presiden dan orang-orang ingin mempelajari kehidupan Saya saat masih ‘bau kencur.’

But it depends on the main languages I used to start the blog. If I use english as an opening, then other languages will be treated as foreign language. Anyway, why do you care about technicalities? Heck, why do I need to explain this technicalities!?

I hope you enjoy what I write here. I only write to serve as a memoir of what I’ve been thinking in the past. Because everything you’ve done up to this point is a result of what choices you made in the past. This is a collection of my choices, or at least, my thoughts on my choice in life.

Should I dieded earlier than you, feel free to miss me through this blog! xoxo

Posted in Uncategorized

#coffeexperiment 02 – determining different taste between single origins

Hi there.

Lately, I’m having a new hobbies: brewing coffee.

Why?

Long story short, some coffee in some caf√© can be ridiculously expensive. If I can make delicious coffee myself, I wouldn’t have to spent such money for a glass of coffee.  Also, mom loves coffee. I’m brewing for her, too.

Anyway, #coffeexperiment is a set of experiment I’ve done to learn more about this hobby. I don’t have any teacher, and following a barista course would cost me money (yes, I am super-stingy). So, I am learning just by asking someone with better knowledge and experience, and try out what I’ve learned.

So here’s my story.

Continue reading “#coffeexperiment 02 – determining different taste between single origins”

Posted in Diaries

I’m on a diet.

Eating right food at a right time is one of my obstacles in a diet program. I used to eat whatever and whenever I like it. I also didn’t really care on what I eat. To top it all, I rarely exercise. So I’m not shy to acknowledge that I am an obese person.

image
A comparison to what I eat before and now. I have to let go those cookies now…

I’ve been obese for a long time. I never know what it’s like to be a person with a proper weight. There was a time that I’ve been frustrated with my body image, but being that long in an obese form, I learn to accept it. But I know that being obese is not healthy.. So one way or another, I have to fix this body.

Continue reading “I’m on a diet.”

Posted in Uncategorized

A Friday Rain

Hello!

Finally, new blog! Should we celebrate?

No.

I have a habit on getting bored to my own blog.¬†Sometimes, it’s because of the names. While other times, it’s because of technical¬†stuff. Mostly it’s first world problems such as “people can’t comment properly in this blog!” *cough* *tumblr* *cough*, “this blog can’t be customized completely!”, “this blog has too much widget I can’t pick something I want!”

I always regret when I made a new one. Most of the time, it’s too late. So I’ll just continue with my blog.

But my recent blog, well.. I’ve forgot which username login for that blog. Yes, I have a lot of usernames, too. I even have a lot of emails which I can’t keep track of them all.

So yeah, I love to create something new.. and mostly abandon it. *chuckles*

Anyway, I welcome you to my new blog. A lot of stuff here will be posted in english. I can practice my english, and the rest of the world can understand it! Assuming the rest of the world also speaks english, that is..

I mostly will write about my contemplation and opinion here. But we’ll see where our journey goes.

See ya!